Loading...
Kabupaten Banyuwangi
081332445350

Berita

Peringatan dan Refleksi Kemerdekaan ke-81 di Bumi Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo

17 Aug 2026

BANGOREJO, BANYUWANGI — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang sejarah perjuangan bangsa. Di lingkungan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Bangorejo, Banyuwangi, kemerdekaan juga dimaknai sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi diri, memperkuat rasa syukur, serta menumbuhkan kembali semangat para santri dalam menuntut ilmu dan menjaga akhlak. Peringatan dan refleksi kemerdekaan tersebut dilaksanakan pada 16 Agustus 2026 mulai pukul 20.30 WIB. Kegiatan diisi dengan khotmil Qur’an dan doa bersama yang diikuti oleh para santri dan keluarga besar pondok pesantren. Kegiatan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an 30 juz yang dibagi kepada para santri. Pembacaan Al-Qur’an tersebut bukan sekadar rangkaian acara, tetapi menjadi bentuk ikhtiar spiritual agar Indonesia senantiasa diberikan keberkahan, keamanan, kedamaian, serta kehidupan masyarakat yang semakin baik.

Kegiatan tersebut dipimpin oleh KH. Zainal Arifin Hakim, selaku pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah. Kehadiran beliau sekaligus menjadi pengingat bagi para santri bahwa perjuangan dalam mengisi kemerdekaan tidak selalu dilakukan dengan mengangkat senjata. Pada masa sekarang, perjuangan dapat diwujudkan melalui kesungguhan dalam belajar, memperbaiki akhlak, menjaga persatuan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat. Momentum refleksi kemerdekaan juga menjadi ruang bagi para santri untuk memahami bahwa kemerdekaan yang dirasakan hari ini tidak datang begitu saja. Ada pengorbanan, air mata, tenaga, pikiran, bahkan nyawa para pahlawan yang telah mendahului. Karena itu, mengenang jasa para pahlawan seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi diteruskan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah pembacaan Ikrar Santri yang diikuti oleh seluruh santri dan dipandu oleh Ketua Pengurus Pesantren. Ikrar tersebut menjadi bentuk komitmen bersama agar para santri tidak hanya memiliki semangat dalam menuntut ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga nama baik pesantren, menghormati guru, berbakti kepada orang tua, dan menjadi generasi yang memiliki kepedulian terhadap bangsa dan negara.

Dalam refleksi tersebut, Agus Muhammad Badrudin, S.E., M.M. menyampaikan bahwa tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini memiliki bentuk yang berbeda dengan perjuangan para pahlawan pada masa lalu. Menurut beliau para santri saat ini sedang berhadapan dengan berbagai persoalan seperti kebodohan, kemalasan, pergaulan yang kurang baik, hingga penyalahgunaan teknologi. Tantangan tersebut tidak boleh dianggap ringan karena dapat memengaruhi karakter dan masa depan generasi muda.

Perjuangan santri pada zaman sekarang salah satunya adalah melawan berbagai hal tersebut dengan membangun akhlak yang baik dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Perjuangan itu dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menjaga adab kepada orang tua, menghormati guru, menjaga pergaulan, serta menggunakan teknologi secara bijak. Hal sederhana seperti bangun tepat waktu untuk melaksanakan ibadah dapat menjadi bagian dari latihan kedisiplinan seorang santri. Jika seseorang mampu mendisiplinkan dirinya dalam perkara-perkara kecil, maka diharapkan ia juga mampu bertanggung jawab terhadap perkara yang lebih besar.

Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi kehidupan santri. Karena pendidikan di pesantren tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak ilmu yang mampu dipelajari, tetapi juga tentang bagaimana ilmu tersebut membentuk sikap dan perilaku. Ilmu tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sedangkan akhlak yang baik akan menjadi dasar bagi seseorang dalam menggunakan ilmu yang dimilikinya. Semangat kemerdekaan akhirnya tidak hanya dimaknai dengan mengibarkan bendera atau mengikuti upacara. Bagi santri, cinta tanah air dapat diwujudkan dengan belajar sungguh-sungguh, menjaga persatuan, menghormati perbedaan, menaati aturan, menjaga lingkungan, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang mampu memberikan manfaat bagi bangsa.

Pesantren memiliki peran penting dalam proses tersebut. Di dalam pesantren santri tidak hanya ditempa melalui pembelajaran kitab dan ilmu agama, tetapi juga melalui kehidupan bersama yang mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, kesederhanaan, gotong royong, dan penghormatan kepada guru. Peringatan kemerdekaan ke-81 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo menjadi lebih dari sekadar peringatan tahunan. Kegiatan ini menjadi sebuah refleksi bahwa perjuangan belum selesai. Jika dahulu para pahlawan berjuang untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan, maka tugas generasi saat ini adalah menjaga kemerdekaan tersebut dengan ilmu, iman, akhlak, dan karya.

Khotmil Qur’an dan doa bersama menjadi penutup sekaligus pengingat bahwa perjuangan lahiriah harus berjalan bersama dengan ikhtiar batin. Para santri diajak untuk mendoakan para pahlawan yang telah berjasa bagi bangsa, sekaligus memohon agar Indonesia terus diberikan keberkahan dan generasi mudanya dijauhkan dari berbagai hal yang dapat merusak masa depan. Dari bumi pesantren, semangat itu terus ditanamkan: menjadi santri yang berilmu, berakhlak, disiplin, menghormati guru dan orang tua, serta memiliki kecintaan terhadap tanah air. Karena salah satu cara terbaik untuk menghargai jasa para pahlawan adalah dengan tidak menyia-nyiakan kemerdekaan yang telah mereka perjuangkan.


Leave a Reply