BANYUWANGI SalsyafCom– Ngaji dan mujahadah malam Ahad Pon digelar di kediaman H. Hadi dan Hj. Isroliyah, Buluagung, Banyuwangi.
Kegiatan rutin bulanan itu dihadiri Gus Uut, Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Bangorejo, bersama alumni dan muhibbin.
Kegiatan dilaksanakan secara anjang sana dari rumah ke rumah alumni maupun muhibbin. Selain mengaji, agenda tersebut menjadi sarana mempererat silaturahmi dan menjaga hubungan dengan keluarga besar pesantren.
Tradisi anjang sana itu bukan sekadar berpindah tempat pengajian. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana untuk menjaga silaturahmi, mempererat hubungan kekeluargaan, memperkuat ikatan antara pesantren dengan alumni dan muhibbin, serta menjaga semangat kebersamaan dalam majelis ilmu dan dzikir.
Melalui pertemuan rutin tersebut, para alumni dan muhibbin memiliki kesempatan untuk kembali berkumpul, saling menyapa, bertukar kabar, sekaligus menjaga hubungan batin dengan pesantren.
Pertemuan dari rumah ke rumah juga diharapkan dapat menumbuhkan rasa saling memiliki dan kepedulian antarjamaah. Dengan begitu, hubungan yang telah terjalin tidak hanya berhenti pada pertemanan, tetapi berkembang menjadi ikatan kekeluargaan yang terus terpelihara.
Dalam pengajian, Gus Uut membahas tanda kesempurnaan akal yang bersumber dari Kitab Washiyatul Musthofa.
يَا عَلِيُّ، لِلْعَاقِلِ ثَلَاثُ عَلَامَاتٍ: اَلْاِسْتِعَانَةُ بِالدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ، وَاحْتِمَالُ الْجَفَا، وَالصَّبْرُ عَلَى الشَّدَائِدِ
Gus Uut menjelaskan, tiga tanda orang berakal adalah menjadikan dunia sebagai sarana menuju akhirat, mampu menghadapi perlakuan yang tidak menyenangkan, serta sabar menghadapi kesulitan.
Ditutup Mujahadah Nihadlul Mustaghfirin
Setelah rangkaian pengajian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan Mujahadah Nihadlul Mustaghfirin.
Para jamaah bersama-sama melantunkan dzikir, istighfar, dan doa dalam suasana khusyuk. Mujahadah menjadi penutup rangkaian kegiatan sekaligus momentum untuk bermunajat memohon ampunan, keberkahan, keselamatan, dan kemudahan kepada Allah SWT.
Kegiatan Ngaji dan Mujahadah Malam Ahad Pon tersebut diharapkan terus istiqamah dilaksanakan dari rumah ke rumah.
Selain menjadi ruang untuk menambah ilmu agama dan memperkuat spiritualitas, kegiatan itu juga menjadi media untuk terus merawat silaturahmi alumni dan muhibbin, menjaga hubungan dengan pesantren, serta menumbuhkan kebersamaan dalam suasana kekeluargaan dan keagamaan.
Dari satu rumah ke rumah lainnya, tradisi anjang sana tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antara pesantren, alumni, dan muhibbin tidak selesai ketika masa belajar berakhir. Silaturahmi, ilmu, dzikir, dan doa menjadi jalan untuk terus menjaga ikatan tersebut.